Pernah suatu sore, aku melihat seorang anak kecil memungut sampah plastik di tepi sungai dekat rumahku. Matanya berkaca-kaca saat melihat ikan mati terdampar di antara tumpukan limbah. Aku terinspirasi menulis cerita berjudul 'Suara Sungai' tentang persahabatan antara Ardi, bocah 10 tahun, dengan sungai yang perlahan sekarat. Ceritanya dimulai dengan kebiasaan Ardi menceritakan rahasia kepada sungai, lalu berubah menjadi aksi nyata ketika ia mengajak teman-teman sekelasnya membuat gerakan 'Satu Botol Sehari'.
Alur berbalik ketika Ardi menemukan surat misterius berisi keluhan dari 'Sungai Biru' yang ternyata ditulis neneknya yang dulu pernah mandi di air jernih itu. Klimaksnya sederhana namun menyentuh: adegan di mana Ardi membaca puisi tentang sungai di depan kelas, sementara air mata mengalir di pipinya yang kotor oleh debu jalanan. Ending kuasaikan terbuka - apakah gerakan mereka berhasil atau tidak, tapi yang penting semangat perubahan sudah tertanam.