TANTE MALIKA : MANISNYA DENDAM ADIK TERSAYANG
Ia menggandeng lengan Malika diajaknya menyusuri lorong, jalan setapak hingga ke tepi hutan sambil terus memperhatikan sekelilingnya.
Lorong ini terlihat sempit, namun bisa dilalui mobil kecil sekelas Agya, Brio atau Jazz.
“Kamu nggak sekolah, Dik?”
“Masih online, tante. Tante Corona belum mau pulang ke negaranya,”
“Kelas berapa sekarang?
“Kelas enam, Tante.”
“Kelas enam sudah segede ini. Kirain sudah SMP,” gumam Malika geleng-geleng kepala.