PETAKA REUNI
Sebab, aku tak tahu akan membalas dengan kalimat apa.
“Apa kamu cinta sama aku?” Kuberanikan diri untuk bertanya. Pertanyaan paling konyol yang seharusnya tak pernah kuucapkan. Namun, di detik kemudian aku merasa bahwa pertanyaan itu salah. Ya ... salah karena aku tidak siap dengan jawabannya.
Arsyl tersenyum simpul. Senyum teraneh yang pernah kulihat selama seatap dengannya. Kemudian, matanya terarah pada leherku. “Sayangnya, kamu nutupin ‘tandanya’.”