Dari Budak Menjadi Bencana
"Fragmen Jiwa Terkutuk. Sisa-sisa seorang kultivator pemberontak dari generasi lalu yang mencoba menghancurkan tambang ini. Energinya... ganas."
Aku mengamati kristal itu. Bahkan dari jarak beberapa langkah, aku bisa merasakan amarah yang terpendam di dalamnya. Sebuah kemarahan yang membara, sama seperti yang kini kupendam dalam diriku. "Bibit"-ku bereaksi, tapi kali ini bukan dengan ketakutan atau keraguan, tapi dengan pengakuan. Seperti mengenali saudara.
"Aku siap, Tuan," kataku, dengan suara datar yang kusengaja.