Jadi Budak Kakak Ipar
Felisha mengusap pipinya yang masih basah, lalu menghela napas panjang.
“Sehat,” gumamnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri. “Dia sehat.”
Gina tersenyum hangat. “Kamu hebat, Feli. Kamu datang ke sini tanpa siapa pun yang selama ini selalu mengambil alih keputusanmu.”
Felisha terdiam. Kata-kata itu menancap tepat di dadanya.
“Aku takut, Gin,” akunya jujur. “Tapi anehnya, kali ini takutnya berbeda. Bukan takut sendirian. Lebih ke takut salah langkah.”