Malam Penuh Gelora Bersama Bosku
Dia tampak merasa bersalah, jadi berucap dengan nada menyesal, "Maafkan aku karena sudah lancang. Situasinya darurat, aku terpaksa melakukannya. Kuharap kamu bisa memaafkanku."
Setelah berkata demikian, pria itu melembutkan suaranya dan mundur dua langkah untuk menjaga jarak. Kemudian, dia menangkupkan tangan dengan sikap meminta maaf yang sangat tulus. "Maaf, maaf. Keadaannya benaran mendesak, aku nggak bermaksud apa-apa."
Awalnya Livy masih marah, tetapi mendengar permintaan maaf pria itu yang begitu tulus, dia hanya bisa menghela napas dan mengangguk. Tampaknya, pria itu memang tidak berniat buruk padanya.