Satria Idaman Wanita
Kipas angin kecil di sudut ruangan seolah kehilangan fungsinya, tak mampu mengusir hawa panas yang kini bukan hanya berasal dari sengatan matahari Jakarta, tapi juga dari dua anak manusia yang saling berhadapan.
Dinda menatap bibir Satria dengan intensitas yang membuat sang jawara jalanan salah tingkah. Napas gadis itu memburu, menerpa wajah Satria dengan aroma kopi dan vanila yang khas dan memabukkan. Satria benar-benar terkunci di antara tubuh Dinda dan pintu lemari kayu reyot di belakangnya. Tidak ada ruang untuk kabur.
"Buktikan, Satria," bisik Dinda sekali lagi, suaranya terdengar serak dan penuh tuntutan.