Ibu Susu Bukan Pengganti
Denada duduk di sofa dengan perlahan, masih dengan Carlo di pelukannya dengan amarah di dada yang masih membuncah.
Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00. Selama beberapa menit, keheningan menyelimuti mereka. Emas masih berlutut, menunggu vonisnya. Akhirnya, Denada menarik napas panjang lalu menatap Emas dengan mata yang basah, tatapan yang tidak lagi dipenuhi amarah murni, melainkan campuran dari berbagai emosi yang rumit. Kebingungan, kelegaan, rasa sakit, dan secercah kehangatan yang menolak padam.
"Aku gak tahu harus marah atau berterima kasih sama kamu," kata Denada dengan suara pelan, setiap kata terasa berat di lidahnya.