Sketsa Hujan
Ia mengirim pesan singkat yang putus asa: "Aksa, aku sudah di bandara. Aku sudah pulang. Kamu di mana? Tolong jawab."
Ia tidak tahu bahwa di ketinggian 35.000 kaki di atas Samudra Hindia, ponsel Aksara berada dalam airplane mode. Aksara sedang menyesap kopi hangat sambil menatap cakrawala yang tak berujung, memikirkan teknik lukis baru yang akan ia pelajari di Paris. Ia sedang membayangkan warna-warna musim dingin, sementara Elang sedang terbakar oleh teriknya kenyataan.
Hanin berjalan perlahan mendekati Elang yang tampak hancur. Ia tidak merasa iba; baginya, ini adalah keadilan yang puitis.