DONATUR ASI JADI CINTA CEO
Monitor di sisi tempat tidur memancarkan cahaya biru lembut, menunjukkan denyut jantung mereka yang mulai stabil.
Nadine membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa berat, tetapi tubuhnya tak lagi menggigil. Bau antiseptik dan suara mesin medis yang berdetak ritmis membuatnya sadar, bahwa ini bukan kastil Drucki lagi. Ia memandang sekeliling: ruangan steril, bendera biru dengan simbol salib putih, dan kamera yang mengikuti setiap gerakannya.
“Fasilitas karantina internasional,” gumamnya lirih.