Ada satu malam ketika aku menemukan album foto lama terselip di balik lemari. Halaman pertama terbuka dengan gambar ibu tersenyum lebar, memelukku yang masih balita. Tiba-tiba semua kenangan berdesakan—aroma masakannya yang selalu menggoda, suaranya yang lembut membacakan dongeng sebelum tidur, bahkan cara dia mengelus kepala saat aku demam. Sekarang, setelah 10 tahun kepergiannya, aku baru sadar betapa banyak hal kecil yang ternyata istimewa. Aku sering membayangkan bagaimana reaksinya jika melihat pencapaianku hari ini. Mungkin dia akan tersenyum bangga sambil berkata, 'Mama tahu kamu bisa.'
Kadang aku sengaja memutar lagu-lagu kesukaannya sambil membersihkan rumah, seperti ritual untuk merasa dekat dengannya lagi. Teman-teman bilang aku mirip dengannya, baik dalam cara tertawa maupun kebiasaan merapikan bantal sofa sebelum duduk. Rasanya aneh—kehilangan seseorang justru membuatku semakin mengenalnya melalui diri sendiri. Aku belajar bahwa rindu itu seperti laut: kadang tenang, kadang menggulung tinggi, tapi selalu ada.