Sentuhan Pria Dewasa
Lalu, dengan gerakan pelan namun tegas, ia melepaskan genggaman itu.
“Irene,” ucapnya, suaranya turun satu oktaf. “Jangan begitu.”
Irene sedikit tertegun. “Kenapa? Aku cuma nyaman…”
Arkana mengangkat wajah, menatap Irene lurus. “Nyaman bukan berarti kamu bebas bertingkah seenaknya.”
Kalimat itu jatuh dengan tenang, namun mengandung batas yang jelas.
Ruangan kembali sunyi. Senyum Irene menegang, berubah kaku sesaat sebelum ia memalingkan wajah. Di balik ekspresi rapuhnya, ada bara kecil yang menyala, tertahan.