KAU MENDUA AKU PUN SAMA
Fatimahpegang tangankuhati istri yang tersakitiketika mas gagah pergimengejar istri
“Nggak melulu soal cantik, Ma. Karena kecantikan itu akan pudar seiring berjalannya waktu. Lagipula kecantikan itu relatif, Mi. Apa yang menurut kita cantik, belum tentu cantik menurut oranglain,“ ujar Pak Haidar.
“Oh … Gitu,“ sahut Bu Elya, tak puas.
“Udahlah nggak usah bahas masalah jodohnya Aric. Mending makan aja yuk, Mbak! Aku kangen rawon buatan Mbak,“ kata Bu Hania. Sengaja dia mengalihkan pembicaraan, karena melihat wajah Liinata yang tampak pias. Tak tega rasanya melihat keponakannya itu tersakiti ucapan anak sambungnya.
Beliebte Kapitel