Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan
Hanya ada alunan musik jazz instrumental yang lembut, dua cangkir teh kamomil, dan Hanif yang duduk berhadapan dengan Dea.
Pria yang biasanya kaku itu kini menatap Dea dengan sorot mata yang begitu dalam dan hangat. Hanif merogoh saku jasnya, lalu meletakkan sebuah kotak beludru merah di atas meja. Dengan gerakan pelan, dia membukanya. Sebuah cincin berlian berpotongan sederhana namun teramat elegan berkilau tertimpa cahaya lampu kafe.
"Dea," panggil Hanif, suaranya yang berat bergetar lembut, menyiratkan ketulusan.