Rasaku Ditelanjangi
“Tapi aku malah... nggak pengin balikin seperti semula.”
Aku tertawa kecil, tapi senyumku canggung. “Kamu tuh, kalau ngomong kayak nggak serius. Tapi nyusupnya dalam.”
“Bagus dong,” katanya santai. “Biar kamu inget terus.”
Lalu, dengan gerakan iseng dan lembut, ia menjepitkan tusuk sate terakhir ke arah mulutku. “Ini hadiah karena udah sabar dengerin aku curhat.”