Menuju Matahari
“Sekarang kau mengerti mengapa wilayah ini kuberinama Alas Arimo. Daerah sini memang tempat pembenihan harimau. Dan bukan harimau-harimau biasa, melainkan yang bisa kuajak berperang.”
Kini harimau putih yang bernama Balung itu sibuk mengendus-endus dada, perut, dan leher Candrakumala, seolah sedang menilai enak tidaknya daging sang pangeran untuk dikunyah tak lama lagi.
“Tentunya kau sekarang tak berpikir bahwa jalan balik ke Gunung Wijil atau ke Kotaraja Pasir adalah satu pilihan yang pintar, bukan?”