Hajatan di Rumah Ibu
"Saya pamit dulu, Tah. Gulainya enak, lho. Sayang kalau kamu nggak sempat mencicipi,"
Aku tidak menjawab. Mataku hanya memandang plastik itu. Bukannya menimbulkan rasa lapar,itu malah menambah beban di dada. Rasanya, aku ingin sekali bertanya langsung pada Ibu. Kenapa? Apa salahku? Apa aku bukan lagi bagian dari keluarganya?
Namun, untuk saat ini, aku hanya bisa berdiri diam di depan rumah, membiarkan pagi yang tenang berubah menjadi hari yang penuh tanya.
Hot Chapters