Sisa Takdir
“Mereka ingin memancing kita menyerang terlebih dahulu... lalu menjebak kita dalam kabut sihir itu.”
Caelum menatap medan dari celah menara. Kabut yang mengambang perlahan di lembah bawah itu bukan kabut biasa ia bergerak menentang arah angin, menggulung seperti makhluk hidup. Warnanya kelabu kebiruan, berkilau samar seperti sisik makhluk laut yang muncul di malam bulan mati. Setiap kali kabut itu bergerak, hawa dingin menjalar hingga ke tulang, membuat para penjaga bergidik meski mengenakan zirah penuh.
“Bukan hanya sihir biasa,” gumam Caelum. “Ini sihir terlarang. Kuno. Tuan Lucien, kita tidak bisa membiarkan mereka memanggil apa pun yang sedang mereka bangkitkan.”
Bab Populer