Di sudut yang remang-remang aku sering memikirkan apa arti 'love in the dark' kalau diterjemahkan ke dalam perasaan sehari-hari. Bagi aku, itu seperti cinta yang tumbuh di antara bayang-bayang: tidak selalu dipamerkan, seringkali diuji oleh kecemasan, dan justru menjadi lebih jujur karena tidak tergoda oleh sorotan. Ada keintiman di sana—bisik-bisik lewat telepon tengah malam, surat-surat yang ditulis tapi tak dikirim, sentuhan yang terasa lebih bermakna karena dunia di sekitar seolah menutup mata.
Kadang cinta semacam ini terasa seperti obor kecil di lorong panjang. Orang-orang di luar mungkin tidak tahu, tapi obor itu menerangi jalan dua orang yang berjalan berpegangan tangan, meski langkahnya goyah. Di saat lain, 'love in the dark' juga berarti menerima sisi gelap pasangan—rasa takutnya, kebiasaan yang aneh, dan hari-hari ketika ia tak bisa menjadi versi terbaik dirinya. Mencintai dalam gelap berarti memilih tetap tinggal pada momen-momen rapuh itu.
Aku sering membayangkan cinta ini sebagai lagu lembut yang cuma bisa terdengar saat lampu mati; sangat personal, sedikit melankolis, tapi penuh keberanian. Itu bukan dramatisme sinetron, melainkan keberanian sehari-hari untuk percaya tanpa jaminan. Aku nyaman dengan bayangan itu—seolah cinta yang paling dalam tak perlu panggung besar untuk menjadi nyata.