KINASIH
Ijah menunjuk sesuatu di dalam kotak itu.
Asih membuka dan membacanya dalam hati, dan tiba-tiba sesuatu yang aneh muncul di sana. Seakan bulir air yang membasahi hatinya yang gersang.
[Asih, bagaimana kabarmu? Turut berduka cita atas meninggalnya Akung ya, As. Mama bilang, kau sudah lebih baik dari sebelumnya. Kuharap harimu selalu indah, begitu juga dengan Arya —ah, nama itu. Mengapa kau tak memberinya nama Bayu, Ubay atau Buya, biar samaan denganku? Haha. Oh ya, As. Aku minta maaf sekali atas apa yang telah terjadi di hidupmu. Sekarang, aku tengah merasakan karma dari semua yang pernah kulakukan. Di penjara dingin, As. Salah sedikit, bakal jadi bulan-bulanan napi lainnya. Ah, mungkin meman
Hot Chapters