Luka Seorang Istri
“Ya.”
Aku tahu dia tak ikhlas, tapi sungguh menghadapi Ibu kenapa sulit sekali, belum lagi Mia, Saga baru akan pulang seminggu lagi, aku tak mungkin membiarkan Ibu dan Mia berdua. Esok hari kami bangun kesiangan, Ibu sudah mengetuk pintu dengan keras, membuat kami terlonjak dibuatnya, Dilra aku suruh ke kamar mandi dulu, sedang aku menemui Ibu.
“Mana istrimu?”