Menuju Matahari
Sisa-sisa matahari menjelang senja sudah tak mampu lagi menembus kepekatan dedaunan.
“Wah, ternyata jalannya terang benderang sekarang.”
Celetukan Sukra tak keliru.
Barusan mereka melintasi jalan setapak di sela pepohonan hutan. Kini tahu-tahu medan menjadi rata dan lebar, meski permukaan tanah tertutup dedaunan, terutama daun-daun bambu kering. Dan di kedua sisi jalan, berselang-seling rapi kanan dan kiri dengan jarak dua tombak, berdiri obor-obor besar bertiang bambu. Semua nyalanya cukup kuat sehingga tahan terpaan angin. Deretan obor berjajar rapi dan membelok melengkung ke kiri dalam jarak 10 tombak di depan.