LOGINKeputusan menjadi TKW dengan meninggalkan seorang anak yang masih balita adalah keputusan yang sangat berat. Semenjak suamiku di PHK dari perusahaan tempat dia bekerja, kehidupanku serasa dijungkirbalikkan. Apalagi dengan gaya hidup suamiku yang terbiasa berfoya-foya dengan para wanita malam. Karena keadaan membuat aku terpaksa bekerja di Hongkong sebagai asisten rumah tangga. Aku bekerja menjaga seorang nenek yang kesepian karena anak-anaknya tinggal di luar negeri. Di Hongkong aku bertemu dengan pemuda yang bernama Lay Ka Sing di suatu stasiun dengan percekcokan yang tidak menyenangkan. Tidak menyangka ternyata dia adalah cucu majikanku seorang artis muda yang sedang naik daun. Karena ditimpa isu dia seorang gay untuk menyangkalnya terpaksa dia berpura-pura menikahiku. Kebersamaan yang terpaksa itu lambat laun berubah menjadi cinta. Bagaimanakah hubunganku dengan Lay Ka terjalin? Bagaimana pula dengan suamiku dan anakku di Indonesia?
View MoreJordie berkeringat dingin saat masuk ke dalam ruang HRD di maskapai swasta tempat dia bekerja. Hari ini adalah hari penentuan perpanjangan kontrak kerjanya. Dia sudah bekerja satu tahun sebagai pilot di maskapai itu.
Memang status Jordie masih karyawan kontrak. Namun, hatinya berharap bahwa akan ada keajaiban terkait perpanjangan kontrak kerja dan penetapannya sebagai pilot tetap di maskapai itu.“Sore, Pak,” Jordie menjabat tangan Kepala HRD maskapainya. Di sana juga ada mentor timnya selama menjadi pilot.“Silakan duduk,” Kepala HRD mempersilakan Jordie duduk.Jordie duduk. Telapak tangannya terasa basah. Ada kecemasan dalam hatinya jika kontraknya tidak akan diperpanjang.Kecemasan Jordie beralasan. Semuanya karena banyak teman-teman satu angkatannya yang diputus kontrak karena alasan efisiensi tenaga kerja di masa pandemi. Sudah beberapa tahun pandemi berjalan. Meski aktivitas penerbangan sudah mulai meningkat, tapi stabilitasnya secara bisnis memang masih dipertanyakan.Beberapa maskapai sudah ada yang gulung tikar. Maskapai tempat Jordie bekerja terhitung masih bagus karena bisa survive di masa pandemi. Namun, jumlah pengurangan tenaga kerja di maskapai selalu dilakukan secara berkala.“Jordie, ini keputusan kami untuk kontrak kerjamu,” Kepala HRD memberikan amplop putih pada Jordie.Jordie menerimanya. Belum sempat Jordie membacanya, Kepala HRD sudah melanjutkan wicaranya.“Kami minta maaf padamu karena tidak bisa memperpanjang masa kerjamu di sini,” tutur Kepala HRD menerangkan keputusan yang diambil perusahaan atas nasib Jordie. “Kinerjamu bagus. Kamu termasuk salah satu pilot muda berbakat kami. Namun, perusahaan kami memang masih dalam masa berbenah diri dan harus melakukan pengetatan budget. Karena itulah, kami memutuskan untuk memberhentikanmu.”Pandangan Jordie tercengang menatap keputusan Kepala HRD maskapainya yang menyedihkan itu. Kecemasannya berubah jadi kenyataan. Dia tergabung dalam 100 karyawan maskapai yang akhirnya diputus kontrak kerjanya.“Ini adalah keputusan final,” lanjut Kepala HRD. “Sekali lagi kami mohon maaf atas keputusan ini. Semoga di lain kesempatan, kita masih bisa bekerja sama.”Jordie menganggukkan kepala kaku. Perasaannya hancur karena dia diputus kontrak kerjanya.Langkah Jordie gontai saat memasuki kontrakannya. Dia sama sekali tak bersemangat dan langsung mengurung diri di kamar.“Die! Jordie!” Hakim, teman Jordie yang senasib dengan Jordie, menerobos masuk ke dalam kamar. Dia mendekati Jordie yang tengah bersedih hati karena pemutusan kontrak kerja.“Jordie, jangan sedih kamu,” tutur Hakim menghibur Jordie. “Aku juga kena pecat kok.”“Argh, tapi bulan depan, aku berjanji datang ke rumah orang tua Aster buat ngelamar dia!” timpal Jordie kesal sekaligus sedih.“Ya udah. Dilamar aja. Kan kalian udah pacaran dari SMA. Udah saling kenal sejak kecil. Kan kamu juga disekolahin sama orang tua Aster, kan? Kalau dikomunikasikan, mereka bakal paham kayaknya,” terang Hakim menyemangati Jordie.“Nggak bisa, Kim,” balas Jordie. “Aku sudah banyak berutang budi pada keluarga Aster. Kalau aku ngelamar Aster dengan kondisi pengangguran begini, mau ditaruh mana mukaku?!”Jordie menghela napas gelisah. “Apalagi, Aster kan lagi terkenal banget. Dia influencer kuliner kesukaan anak muda. Kamu bayangin aja berapa banyak gaji dia tiap bulannya. Pengangguran kayak aku nggak pantes banget bersanding sama dia.”Hakim berdecak. “Terus apa rencanamu? Mau batalin rencanamu ngelamar Aster? Kamu nggak pertimbangin gimana perasaan Aster nantinya?” cerocos Hakim memberikan perspektif lain pada Jordie.“Aku nggak bakal batalin rencana lamaran itu,” ucap Jordie. “Aku hanya akan menundanya. Aku bakal fokus cari pekerjaan yang stabil.”“Kamu mau lamar jadi pilot lagi? Yakin bakal ada maskapai yang mau terima?”Jordie menatap kesal Hakim. “Kamu kok nggak memotivasiku sih, Kim?” protes Jordie.“Aku hanya ingin kamu realistis aja,” ujar Hakim. “Kamu tahu sendiri kan? Sebelum ada pandemi, udah banyak ribuan pilot nganggur. Ini karena jumlah orang yang mengambil pendidikan pilot jauh lebih banyak dari lowongan kerja pilot yang dibutuhkan. Ditambah lagi, sekarang masih masa pandemi. Kamu yakin beneran bisa kerja jadi pilot lagi?”“Kalau belum dicoba kan nggak mungkin tahu gimana hasilnya,” timpal Jordie tetap menyimpan asa dalam hatinya. “Aku mau usaha dulu, Kim. Aku yakin usahaku sekarang belum maksimal. Aku bakal usaha lebih baik dari sekarang.”“Oke deh,” ucap Hakim. “Kabari aku kalau kamu butuh bantuan.”Jordie menatap Hakim penasaran. “Kamu sendiri mau ngapain habis ini?” tanya Jordie ingin tahu.“Aku ada rencana mau bikin usaha geprekan ayam,” jawab Hakim ringan. “Tabunganku masih bisa dipakai buat sewa rumah dan aku mau jualan di sana. Aku rasa itu pilihan realistis buat sekarang. Bisnis kuliner kan nggak akan mati karena semua orang butuh makanan.”Hakim tersenyum simpul menatap Jordie. “Rencanaku sebenarnya aku pengen ajak kamu join bisnis ini. Seenggaknya kalau bisnis kita sukses, kamu kan bisa buka cabang di Bandung. Kalaupun kamu menikah, kamu masih bisa mengandalkan bisnis geprek ayam itu buat jadi penghasilan utamamu. Tapi, kayaknya bisnis geprek ayam bukan pilihan menarik buatmu.”Hakim menghela napas berat. Dia melangkah keluar kamar Jordie dan menutup pintu kembali dengan rapat.Jordie termenung memandangi Hakim. Entah mengapa, hatinya merasa bersalah karena sudah berdebat dengan Hakim tadi. Padahal, Hakim membawa rencana yang cukup bagus untuk mereka jalankan setelah ini.Buru-buru Jordie berlari keluar dari kamarnya. Dia mengejar Hakim. “Kim! Hakim!” teriak Jordie.“Woi!” balas Hakim. “Aku nonton TV di ruang tengah!”Jordie menyusul Hakim ke sana. Tampak Hakim duduk di sofa lusuh berwarna cokelat dan tengah menyalakan televisi.Jordie duduk di sisi Hakim. Dia menepuk bahu Hakim. “Kim, aku nggak bermaksud bilang kalau pekerjaan selain pilot itu adalah pekerjaan yang buruk,” ucap Jordie. “Aku hanya ingin mencoba mendaftar lagi ke beberapa maskapai. Siapa tahu aku bisa kembali jadi pilot. Soalnya Aster sangat menyukai pria dengan profesi pilot. Aku pengen jadi pria yang diidamkan Aster.”“Hei, santailah. Aku paham kok itu. Lagian, kita udah temenan dari SMA, kan? Kamu udah cerita soal ini berulang kali padaku,” balas Hakim.“Aku bakal coba selama tiga bulan,” ungkap Jordie menerangkan rencananya. “Kalau selama tiga bulan ini aku nggak dapat balasan dari sama sekali dari maskapai-maskapai yang aku daftari, aku bakal ikut bisnis kulinermu. Bisa, kan?”Jordie menatap penuh harap pada Hakim. Dia tetap ingin memperjuangkan semuanya dalam kehidupannya. Meskipun, Jordie sangat tahu bahwa kondisi di masa pandemi seperti ini sangatlah sulit bagi semua orang.“Oke,” jawab Hakim dengan senyum lebar di wajahnya. “Warung geprek ayamku selalu terbuka untukmu. Tapi, kamu harus investasi yang banyak ya?”Tawa Jordie terdengar. “Oke,” jawab Jordie penuh semangat.Jordie menyimpan banyak asa dalam hatinya. Dia terus membuat surat lamaran sebagai seorang pilot dengan harapan akan ada maskapai yang mau menerimanya.Aku harus bisa menepis keinginanku yang melambung tinggi. Jangankan untuk memiliki, mendekati saja resikonya seperti ini. Aku berani bersu'udzon ini pasti ulah dari keluarga besar Hanna tunangan Lay Ka Shing. Tidak habis pikir bagaimana hanya demi menghancurkan aku yang hanya seorang babu dari Indonesia mereka melakukan pengorbanan yang begitu besar. Narkoba sebagai barang bukti itu bernilai milyaran harus hilang di sita pemerintah Hong Kong hanya untuk menjebakku. "Alien, aku berjanji akan membantumu, ini hanya jebakan belaka untuk menjauhkan kamu dari Bos Lay Ka," janji Devis. "Terima kasih, Devis, kamu melakukan banyak pengorbanan buat aku juga mama dan anakku. Bagaimana cara aku membalasmu, Devis?" gumamku pelan. "Jangan bilang kamu menerima cintaku karena ingin membalas budi, Zhee? Andai memang demikian tak apalah, aku akan membuatmu benar-benar mencintaiku tanpa syarat," kata Devis yakin. "Beri aku kesempatan untuk jatuh cinta lagi, aku butuh waktu, Devis. Apalagi mengingat a
Sudah dua hari wanita penyebab aku mendekam di terali besi itu bungkam tanpa mengungkap pernyataan apapun. Ini membuat aku masih terkatung-katung di tahanan. Geram rasanya, ingin menghampiri nya dan menjambak rambutnya. "Kenapa sih sulit mengakuinya, takut hukuman mati menantimu ya? Tapi kenapa harus aku, coba? Apa salahku padamu?" monologku dengan geram. "Ada apa?" tanya polisi penjaga kepadaku. Aku mengoceh sendiri dalam bahasa Indonesia kayak orang gila. Sehingga membuat polisi Hong Kong merasa terganggu. "Pengacaramu ingin bertemu," kata seorang polisi yang lain yang tiba-tiba muncul. Apakah dia bersama Lay Ka? Kenapa aku merindukannya? Harusnya Devis yang kuharapkan, karena selain Lay Ka dia banyak membantuku juga. Bahkan dia dengan terus terang sudah menyampaikan perasaannya kepadaku. Polisi membuka gembok terali dan mengikutiku saat aku melangkah ke suatu ruangan. Telah duduk pengacara ku Andy Cheong sambil membuka-buka berlembar-lembar kertas fail. "Selamat siang, Tua
Aku berusaha menghubungi Lay Ka. Sepertinya dia masih di lokasi syuting karena saat dia mengangkat teleponnya suaranya sangat ramai. Lay Ka kesulitan mendengarkan suaraku. "Lay Ka, tolong aku ... sekarang aku di kantor polisi Central, aku tidak bersalah!" itu yang aku katakan. Tapi kiranya Lay Ka tidak mendengarnya. Dia berusaha untuk bertanya berkali-kali memperjelas, tapi tetap saja tidak bisa mendengar. "Alien ...halo?" Tidak jelas, Alien!" kata Lay Ka berteriak. "Kirimlah pesan!" lanjut Lay Ka meminta. Padahal aku bisa mendengar dengan jelas suara Lay Ka meskipun berisik. Akhirnya aku menulis pesan dalam bahasa Inggris. Karena aku tidak bisa menulis bahasa kantonis. Padahal aku juga tidak pandai berbahasa Inggris. "Help me, please!, I"m in trouble! Now, I am in police office in Central," itu yang aku tulis entah itu benar atau salah, aku yakin ini cukup dimengerti Lay Ka. Polisi Hongkong mempersilahkan aku duduk di suatu ruangan dan ponselku disita untuk diperiksa juga. Mer
Setelah mendengar ungkapan Lay Ka aku tidak tahu harus senang ataukah bersedih. Sejenak aku tersanjung mendengar pengakuan Lay Ka tentang perasaannya. Apalagi di depan publik, juga di depan Hanna yang selama ini selalu merendahkanku. Tapi juga sedih karena aku terjebak dengan sandiwaraku sendiri. Lay Ka dan publik menganggap aku dan Devis benar-benar pacaran. Tapi Devis benar-benar mencintaiku, haruskah aku menyakitinya? Dia orang yang selama ini tulus mencintai dan begitu baik kepadaku dan mamaku. "Sejak kapan perasaan itu datang, Lay Ka?" tanya salah satu fansnya. "Saya tidak sadar kapan datangnya, yang jelas kebersamaan kami selama ini menumbuhkan perasaan itu yang aku sendiri tidak menyadarinya," ungkap Lay Ka. Aku melambankan langkahku demi mendengar lagi pengakuan Lay Ka. "Terus bagaimana dengan Nona Hanna? Kapan dia hadir dalam hidup anda, Lay Ka?" tanya yang lain. "Mereka hadir di waktu yang berbeda, juga di tempat yang berbeda di hatiku," jawab Lay Ka mengambang. "Alien
Hatiku terasa perih, leher terasa tercekik. Selama ini aku bertahan dengan segala tingkahnya dengan gonta-ganti wanita malam. Aku juga tidak berdaya saat dia memoroti uangku dengan alasan ini itu. Bahkan dia membohongiku katanya membangun rumah di lahan orang tuanya.Aku mengirim semua gaj
Aku memasak untuk makan malam hanya dengan memanfaatkan bahan yang tersisa di kulkas. Bobo dan Lay Ka bercengkerama dengan akrab, mereka lama tak berjumpa."Kamu memasak apa, Alien?" tanyanya tiba-tiba muncul di belakangku."Cah kailan sama daging sapi, tim ikan sama soupnya ayam hi
"Pasti kamu lelaki di lorong itu, kembalikan ponselku!" teriakku geram. "Bobo tahu nggak, dia mencium fotoku untuk selfi, nih coba lihat! Nggak punya malu banget, narsis!" kata Lay Ka sambil menyekrol layar ponselku. Kemudian menunjukkannya kepada bobo. Foto-fotoku saat aku dengan tidak punya malu
"Duduklah, Bobo!" pintanya setelah mereka berpelukan sebentar."Kamu sendirian, Lay Ka?" tanya Bobo."Iya, Bobo. Pacarku lagi sibuk," jawabnya."Siapa pacarmu sekarang? Masih Hanna kan?" tanya bobo memastikan."Ya iyalah, emang Lay Ka playboy gonta-ganti pacar?" sahut












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore