Rayuan Maut Para Tetanggaku
Dia berjalan mendekat, menatap bekas luluran di pundakku yang masih basah.
"Kamu sudah lebih kuat ya, Nak," ucap Kakek pelan, nadanya mengandung peringatan. "Tapi ingat pesan Kakek. Jangan biarkan api di dalam tubuhmu membakar rumah yang sudah memberimu tempat berteduh. Hawa panas itu... kalau tidak disalurkan dengan benar, bisa merusak segalanya."
Aku tertunduk, merapatkan lilitan sarungku. "Maafkan saya, Kek."