Ifat
“Di surat yang ia titipkan pada Bang Idris, dia bilang pohon yang dia panjat dulu sekarang sudah ditebang.”
“Oh, apesnya. Emm, ngomong-ngomong, semakin ke sini aku semakin penasaran lho, dengan novel yang dia tulis itu. Aku lupa, judulnya apa ya?”
“MAHA CINTA.”
“Bercerita tentang apa itu?”
“Hemm, paling-paling bercerita tentang orang yang patah hati.”
“Hehehe..!” Johan terkekeh pelan.
Sementara aku, menelan ludah, yang kurasakan saat ini sedang kecut-kecutnya. Apa lagi sebabnya kalau bukan Ibu Tata alias si Mira itu?
Bab Populer