Ada satu bait dalam Alfiyah yang selalu bikin aku merenung: 'Dan kehidupan ini hanyalah mimpi singkat, yang kita jalani dengan setengah sadar.' Bait ini ngena banget karena seringkali kita terjebak dalam rutinitas sampai lupa bahwa waktu terus berjalan. Puisi Alfiyah itu seperti cermin—memaksa kita untuk melihat realita dengan jujur. Aku sering menemukan bait-bait lain yang bicara tentang kesementaraan, misalnya 'Kau mengejar dunia seperti anak kecil mengejar bayangannya sendiri.' Metaforanya kuat dan relevan sampai sekarang.
Yang menarik, Alfiyah juga banyak bicara tentang harapan. 'Di balik setiap malam, ada fajar yang menunggu' itu salah satu favoritku. Bait-bait seperti ini menunjukkan keseimbangan—tidak hanya tentang kesedihan, tapi juga tentang cahaya di ujung terowongan. Aku suka bagaimana puisi klasik bisa tetap relevan setelah ratusan tahun, seolah-olah manusia dari zaman apapun punya pertanyaan yang sama tentang hidup.