เข้าสู่ระบบMengisahkan sebuah pertemuan dua orang dengan dua kepribadian yang berlawanan yang akan membawa mereka ke sebuah kehidupan baru di masa depan. Alfaro Putra Alfahri, seorang lelaki bujang berusia 35 tahun, pengusaha sukses yang hidup sebatangkara, kedua orang tuanya sudah meninggalkannya sejak baru berusia dua tahun. Selanjutnya ia hidup di bawah pengasuhan Omanya. Ketidak hadiran peran ayah dan ibu dalam tumbuh kembangnya membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang dingin dan kaku, namun walau begitu ia memiliki hati yang rapuh. Alfaro memiliki kehidupan yang bebas, ia bisa melakukan apapun dengan uangnya. Kecerdasan yang dimilikinya dipadukan dengan harta peninggalan orang tuanya, mampu membawanya pada kesuksesan dalam bisnisnya. Addina Amalia Zahra, seorang gadis tangguh dengan kepribadian yang kuat, diusianya yang baru menginjak kepala dua, ia harus mengalami perubahan hidup yang drastis saat takdir membawanya ke sebuah tempat bak neraka. Dina diam-diam dijual ke tante Merry–pemilik Bar terbesar di Surabaya, oleh kedua kakak tirinya dengan alasan ekonomi, semua itu terjadi tak lama setelah kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan lalu lintas dan meninggalkan banyak hutang di Bank. Takdir itulah yang akhirnya mempertemukannya dengan Alfaro-Palanggan VIP di Bar milik Merry. Tak ingin kehormatan yang selama ini ia jaga terenggut dengan cara yang begitu hina, Dina memberanikan dirinya untuk meminta Alfaro menikahinya di awal pertemuan mereka, dengan segala konsekuensi yang akan di terimanya. Lalu bagaimana kelanjutan kisah mereka? Apakah Alfaro yang bertitle badboy itu akan menerima tawaran Dina? Simak terus kelanjutan ceritanya
ดูเพิ่มเติมSuara musik yang mampu memecahkan gendang telinga, bau alkohol yang sangat tajam menyentuh indra penciuman. Arsa suka sekali bau ini dan juga tempat ini, baginya ini adalah dunianya.
Seorang wanita dengan pakaian minim dengan tatapan mata yang menggoda berjalan menuju Arsa dan langsung bergelayut manja di tangannya.
"Baru datang? Temen kamu pada nungguin, kayanya udah pada tepar deh," celetuk wanita tersebut.
Arsa mengabaikan perkataan wanita itu dan berjalan menuju meja paling ujung dilihatnya para temannya sudah memasuki alam mimpi dan satu temannya lagi sedang berciuman dengan wanita asing yang Arsa yakini itu adalah wanita penghibur.
Arsa duduk di kursi kosong dan diikuti oleh wanita tadi, tanpa mengganggu acara tukar saliva temannya.
Lelaki itu memanggil pelayan untuk memesan minuman beralkohol seperti biasanya dan mengambil kotak rokok yang tergeletak di meja tanpa tahu pemiliknya, membakar puntung rokok tersebut kemudian menghisapnya.
"Berhenti meraba bagian sensitif gue," seru Arsa sambil menghisap rokoknya.
Wanita itu langsung gelagapan melihat raut wajah Arsa yang berubah.
"Oh sorry, aku cuma menghibur kamu kok. Takutnya kamu bosen, soalnya mereka pada sibuk dengan dunia masing-masing," jelas wanita tersebut sambil tersenyum manis ke Arsa.
Arsa hanya mendecih mendengarnya, "Kalau lo ga mau gue telanjangin di sini mending diam."
Wanita itu langsung tutup mulut dan meninggalkan Arsa sendirian. Lelaki itu sedari tadi menghisap rokoknya dan bermain game.
"Sa, sejak kapan lo disini?" tanya temannya tadi yang bertukar saliva.
"Sejak lo ciuman, kalau mau main ranjang jangan di sini. Kebiasaan lo," ujar Arsa tanpa memalingkan pandangannya dari ponsel.
"Hahaha sorry," ucap Satria menyuruh wanita tadi pergi, lelaki itu adalah teman Arsa yang haus akan wanita dan juga sangat mesum. Untung orang tuanya sangat kaya jadi pikiran mesumnya terbayarkan dengan menyewa wanita pemuas nafsu.
"By the way, tadi Mira ke sini nanyain lo. Jangan lari kenapa Sa, kasian gue ngeliat Mira yang bunting nyariin lo ke club begini," ucap Satria sambil meminum alkohol bekasnya tadi.
Arsa mematikan ponselnya dan menaruhnya di atas meja, "Gue ga lari, dia aja yang lemah nyari gue. Lagi pula itu bukan anak gue," jawab Arsa mematikan rokoknya yang sudah habis setengah batang dan meminum alkohol yang tadi ia pesan.
Satria terkejut mendengar kata-kata tersebut yang keluar dari mulut lelaki itu, "Bohong lu, kok dia minta pertanggung jawaban ke lo?"
Arsa mengangkat bahunya, "Se nafsu-nafsunya gue, ga pernah ga pakai kondom kalau main dan juga inget, gue sama dia ga pernah main. Kalau main gue udah kabarin kalian kayak biasa."
Satria manggut-manggut, "Bener sih, terus itu anak siapa dong?"
Arsa mengangkat bahunya, "Ya mana gue tau, tanya aja ke janinnya langsung."
Satria kembali manggut-manggut, "Bener juga."
"Bego, ya mana bisa lo tanya ke janin anjing," balas Arsa.
Radit, lelaki yang dari tadi tertidur akhirnya bangun dengan mata yang masih terpejam dan mengucek matanya.
"Jam berapa, Bro?" tanyanya.
Satria menyenggol lengan Radit, "Udah jam tiga, ga takut kena marah nyokap lo."
Radit langsung seketika melek dan mengambil ponsel di saku celananya, "Buset jancok, kok pada kaga bangunin gue," ucapnya sambil mengambil dompet dan jaket yang tergeletak di meja.
"Salah lo sendiri bego, dah sana pergi anak ambu," ledek Satria, Arsa hanya menggeleng melihat tingkah laku temannya tersebut.
Radit menggaruk kepalanya, "Asu, yaudah gue cabut. Sa, gue cabut ya," pamit Radit pergi meninggalkan mereka.
"Ga pamitan lo sama gue!" teriak Satria.
"Ga guna bangsat!" balas Radit dengan teriak pula walau sedikit samar-samar terdengar karena musik club.
Arsa meneguk alkoholnya, sudah dua botol habis olehnya, sedangkan satria baru habis satu botol dan satu temannya yang teler baru habis dua botol, Gibran memang lemah terhadap alkohol mungkin kalau dia minum alkohol berarti dia sedang ada masalah.
Arsa melirik Gibran yang tengah tertidur pulas di kursi club dan bertanya kepada satria alasan anak itu ada disini sekarang.
"Kenapa?" tanyanya.
Satria menghela napas, "Biasa, putus lagi sama Tamara," ujarnya.
Gibran lelaki itu cuma mengincar satu cewe yaitu Tamara Gledis yang katanya sehidup semati dengannya. Padahal hubungan mereka berdua tiap kali putus nyambung terus selama lebih enam tahun.
"Dasar bucin, diputusin doang langsung lari ke alkohol," seru Arsa.
Satria langsung tertawa terbahak bahak, memang temannya yang satu ini bucin tingkat dewa dengan mantan pacarnya. Sampai tidak mau pindah hati ke cewek lain.
Gibran bangun dengan mengedipkan matanya dan mengusap air mukanya.
"Baru dateng lo?" ucapnya sambil mengambil kacamata yang tergeletak di meja.
"Udah dari tadi, lo aja yang baru bangun," jawab Arsa.
Gibran mengangguk sambil merapihkan pakaiannya yang tampak acak-acakan.
"Gi, lo mending ngejomblo aja deh kayak nih bocah. Aman aja kayanya hidup dia, dari pada lo galau mulu," seru Satria kepada Gibran yang di maksud adalah Arsa.
Gibran menggeleng, "Mending gua galau dari pada dikejar-kejar cewe, bukan galau lagi yang gue dapet. Yang ada di bunuh gue sama para cewe."
Ucapan Gibran mengundang gelak tawa Arsa dan Satria.
"Haha bener, metal dia mah baja. Anak orang dipakai langsung di buang. Gila memang," balas Satria.
"Yaelah lagi pula emang pada bunting? Gue mah main aman bos, ga bego kayak lo. Main sama pelacur langsung bunting, makanya jangan pakai kondom fiesta rasa duren," ucap Arsa membuat Gibran langsung menendang ke arah Satria.
"Hahaha anjing kondom rasa duren," ledek Gibran.
"Asu, lo kok tau nyet," sahut Satria.
Arsa menunjuk otaknya, "Taulah, dari cewe lo," jawabnya.
"Gue sangka lo baca pikiran gue."
Arsa menggeleng sambil meneguk alkoholnya yang sekarang sudah habis tiga botol.
"Ngapain gue baca pikiran lo yang isinya selangkangan semua," jawabnya.
"Anjeng pedes lo, kayak omongan emak-emak komplek gue," ucap Satria dan di angguki oleh Gibran.
Arsa mengeluarkan lima lembar uang berwarna merah dan berdiri.
"Mau kemana lo?" tanya Gibran.
Arsa menunjukkan chatnya dengan seorang wanita dan membuat Satria dan Gibran terkejut dengan mulut menganga.
"Gila! Dapet lagi? Sumpah, mau lo apain tuh cewe?" tanya Satria.
Arsa memasuki kembali ponselnya ke saku celananya, "Buat apalagi, ya untuk mainan lah," ucap Arsa dengan enteng.
"Anjing, udah berapa cewe Sa," ujar Gibran.
Arsa membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Gibran dan Satria yang sibuk meneriakinya.
Athanasia atau sering di panggil Sia sedang duduk di taman sambil membaca buku, pandangannya tak teralihkan dari buku novel yang ia baca dengan tulisan dan kata-kata yang memikat hatinya untuk masuk dan merasakan bagaimana dunia novel yang selalu ia inginkan.
"Non, ini susunya di minum. Keburu dingin nanti," ucap pembantunya yang senantiasa menjaga Sia dari bayi hingga usianya sekarang.
Sia mengerucutkan bibirnya, "Yah, bibi mah. Kan aku lagi baca novel sampai lupa sampai mana tadi, bibi mah ganggu," ucapnya.
"Nuhun atuh, makanya diminum dulu yuk. Nanti kita ga boleh main kesini lagi sama tuan. Soalnya banyak nyamuk, Non," ujar bibi jami.
Mau tak mau Sia meminum susu yang dibuatkan Bibi Jami untuknya. Saat dia hendak kembali membaca bukunya, tetapi sepertinya gadis itu kehilangan mood dan berakhir menutup buku novelnya.
"Ah bosen, aku mau main keluar," celetuk Sia yang berdiri berjalan pergi.
Bi Jami yang melihat itu langsung mengikuti Sia dari belakang, "Non, kalau mau keluar izin dulu sama tuan. Nanti nona di hukum seperti kemarin."
Sia memberhentikan langkahnya dan langsung berjalan cepat kembali ke kamarnya.
Sepanjang jalan Sia hanya mengutuk ayahnya yang terlalu overprotektif kepadanya.
Sesampai di kamar Sia menutup pintu dengan kencang dan merebahkan tubuhnya ke kasur queen sizenya dan mengambil kuas serta alat untuk menggambar.
Sia menggambar dengan khidmat, dengan pensil di tangannya Sia mulai menggambar dua insan yang saling bergandeng tangan yang berada di suatu pantai dengan ombak dan angin yang sejuk, serta matahari yang mulai tenggelam dengan di iringi nyayian burung yang berimigrasi.
Setelah beberapa menit, akhirnya gambarannya jadi. Sia menempelkan gambarannya di dinding dengan kata-kata semangat dan berjanji suatu saat pemandangan seperti ini akan terjadi kepadanya.
Sia berjalan menuju meja belajarnya dan menghidupkan laptopnya dan membuka web yang ia buat, berisikan kata-kata romantis dan gambaran yang ia buat. Banyak yang meninggalkan komentar seperti.
"Tulisan kamu bagus, pasti kamu tlah melewati perjalanan cinta yang romantis," ucap Sia membaca salah satu komentar.
"Dih, mana ada aku pacaran. Yang ada ga di bolehin sama papa," jawabnya.
Sia beralih menuju akun sosial medianya yang lumayan banyak pengikut dan mengecek postingan para teman sosmednya.
Salah satu teman sosmednya memposting foto bersama teman laki-lakinya yang kemungkinan itu kekasihnya.
"Cocok banget mereka. Jadi, pengen bebas," keluh Sia.
Sia mengecek sosial media lelaki yang katanya kekasih teman pengikutnya itu. Banyak foto bersama teman lelakinya dan foto pemandangan serta foto alkohol?
Ah, anak clubbing yang sering di ceritakan di novel-novel.
Tanpa sadar Sia menyukai foto tersebut. Nama pemilik akun sosial tersebut adalah @arsap__
"Arsa ya nama pemilik akunnya, ganteng juga," celetuk Sia sambil tersenyum tipis.
to be continue.
Bab 45 PRUK"Bismillahirrahmanirrahim, Allahumma sholli 'Alaa sayyidina Muhammad wa 'alaa aali sayyidina Muhammad. Ushikum wa nafsii bi taqwAllah, faqod faazal muttaqun.Uzawaijuka 'ala maa amaraAllahu bihi min imsakin bima'rufin au tashrihin bi ihsan.Ya Ali Zainal Abidin Bin Kyai Husein, Ankahtuka wazawwajtuka makhtubataka ibnati Kamila Cahaya Alfahri binti Alfaro Putra Al-fahri, alaa mahri 1 milyun rubiyah, haalan.""Qobiltu nikahaha wa tazwijaha bil mahril madzkur haalan." Gus Zianal menjawab kalimat ijab dalam sekali tarikan nafas dan penuh kefasihan."Bagaimana saksi, sah?"Sah!Sah!Sah!Alhamdulillahi rabbil 'Aalamiin, baarkallahu laka wabaaraka 'alaika wa jama'a bainakuma fii khair."Doa doa baik dipanjatkan oleh orang-orang tua dan masyayikh yang hadir. Semuanya turut bahagia atas pernikahan putra kyai Husain.Kamila yang menunggu di atas pelaminan bersama bunda dan mertuanya mengikuti seiap rangkaian acara dengan khidmat. Ia tak berhenti memanjatkan doa di waktu yang hadi
Bab 44 PRUKSebuah cincin berbahan emas baru saja dilingkarkan di jari manis kiri Kamila oleh Bu Nyai Hana, sebagai simbol bahwa kini Kamila sudah berada dalam pinangan putranya, Gus Zainal.Segala doa dipanjatkan untuk kebaikan keduanya, seluruh keluarga terlihat bahagia atas keputusan Gus Zainal dan Kamila yang pada akhirnya memutuskan untuk segera melaksanakan pernikahan.Tanggal pernikahan telah disepakati, begitu juga dengan bagaimana konsepnya. Rencana gus Zainal dan Kamila untuk melaksanakan program riyadhoh sebelum pernikahan dilangsungkan juga disetujui bahkan didukung oleh seluruh pihak keluarga.Setelah selesai sesi lamaran, Kamila langsung dibawa oleh pihak keluarga Gus Zainal, bukan sebagai pengantin yang diboyong ke tempat suaminya, melainkan sebagai calon santriwati program riyadhoh selanjutnya.Sesampainya di pesantren, Gus Zainal segera mengantar calon istrinya ke tempat di mana ia akan menghabiskan waktu selama 40 hari ke depan."Sudah siap?" tanya Gus Zainal."Insya
Bab 43 PRUK"Saya hanya ingin Gus bahagia, dengan menikahi wanita pilihan Gus. Saya tidak ingin menghalangi kebahagian Gus dengan melanjutkan perjodohan ini." setelah beberapa saat, akhirnya Kamila menjawab dengan kalimat yang terdengar ambigu.Gus Zainal terdiam, ia memperhatikan Kamila dengan seksama, "Kamila terkesan menjaga jarak denganku, bahkan dia terlihat segan dan canggung, berbeda dengan Kamila yang kukenal sebelumnya. Kamila yang ceria, yang kocak, yang asal jiplak kalau bicara.Kamila yang dihadapanku ini terkesan pendiam, hanya berbicara seperlunya, terkesan membentengi dirinya dariku. Dia bahkan mengganti kata ganti untuk dirinya dari 'aku' beubah menjadi 'saya'.Entah mengapa, mungkinkah ini akibat dari kejadian yang baru menimpanya, atau mungkin ini sudah menjadi keputusannya? Aku tidak tahu. Tapi hatiku, mengharapkan Kamila yang dulu, yang apa adanya, yang telah berhasil mencuri hatiku. "Bagaimana jika bahagiaku ada padamu, Kamila?" tanya gus Zainal kemudian.Kamila
Bab 42 PRUK"Ayah ... Ayah tenang dulu, ya." Gus Zainal mencoba menenangkan Ayah Kamila yang semakin tergugu."Saya menyesal, Gus ... kenapa harus Kamila yang menjadi korban atas dosa-dosa masa lalu saya? Saya malu, Gus ... saya malu dengan Kyai Husain, saya malu sama njenengan, Gus ...."Ayah Kamila kembali mengungkapkan isi hatinya. Tangisnya pecah, ia merasa gagal sebagai seorang ayah.Addina yang mendengar ratapan suaminya turut teriris hatinya. Dia tahu betul, bahwa suaminya sangat mengharapkan perjodohan ini. Harapan terbesarnya adalah mengantar Kamila sampai ke pelaminan, dan bersanding dengan lelaki yang tepat, yang mampu memimpin Kamila dan mengarahkannya pada kebaikan.Perjodohan dengan Gus Zainal adalah salah satu cara yang ia harapkan dapat menjadi jalan untuk mewujudkan impiannya."Tolong, Gus ... tolong sampaikan maaf saya pada Kyai Husein. Maaf karena terpaksa perjanjian perjodohan ini harus berakhir sampai di sini." Alfaro melanjutkan kalimatnya."Ayah ... jika memang






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
คะแนน
ความคิดเห็นเพิ่มเติม