Ada sesuatu yang lucu tentang bagaimana bahasa Indonesia bisa begitu fleksibel tergantung situasinya. Misalnya, di kelas kita pakai 'apotek' karena itu bentuk bakunya, tapi pas ngobrol sama temen, lebih enak bilang 'apotik' kan? Atau kata 'nasihat' yang resminya pakai 's', tapi banyak juga yang nyebut 'nasehat' karena pengaruh pelafalan. Contoh lain yang sering bikin gregetan: 'silakan' vs 'silahkan'. Yang baku jelas 'silakan', tapi entah kenapa aku lebih sering nemuin versi kedua di warung kopi. Lucunya, meski 'tidak' itu baku, di kehidupan sehari-hari 'nggak' atau 'gak' justru lebih hidup dan terasa akrab.
Kalau mau contoh ekstrem, coba bandingin 'mengapa' dengan 'kenapa'. Yang pertama cocok buat pidato resmi, tapi bayangin aja kalau pacar tanya 'Mengapa kamu marah?'—rasanya kayak lagi diinterogasi KPK. Di media sosial sekarang malah muncul variasi baru kayak 'knp' atau 'pp' (buat 'pusing'). Bahasa tuh terus berkembang, dan menurutku gapapa selama kita paham konteks penggunaannya.