Keputusasaan Wanita Desa
Aku terbaring lemas di kursi belakang, tubuhku terasa seperti digerogoti jutaan semut.
Hendy meludah di depanku, “Nilai wanita ini sudah nggak banyak lagi. Entah dari mana kepala desa mendapatkan pendatang baru, sepertinya kita akan untung besar. Dia biar kita lelang saja nanti, ambil keuntungan terakhir.”
Sebelum kembali, Hendy menelepon kepala desa, “Kami sudah mau sampai, cepat siapkan peralatannya. Kita akan siaran langsung begitu sampai.”