Kisah Nabi Ilyasa selalu memantul di kepalaku setiap kali aku merasa usaha kecilku nggak ada hasilnya. Aku pernah ngerjain proyek komunitas yang rasanya cuma berujung berantakan, tapi mengingat keteguhan Ilyasa bikin aku sadar: proses sering lebih penting daripada tepuk tangan. Dari sudut pandangku yang agak idealis, pelajaran terbesar adalah soal kesetiaan dan ketekunan—dia terus melayani umat dan meneruskan ajaran, walau kadang orang nggak langsung ngerti atau menghargai. Itu ngingetin aku untuk tetap konsisten pada nilai, bukan cuma hasil instan.
Nabi Ilyasa juga nunjukin sisi empati yang dalam. Banyak cerita tentang dia menolong yang sakit, memberi solusi praktis, dan bahkan menghadirkan harapan lewat mukjizat. Itu ngasih pelajaran bahwa kepemimpinan sejati itu bukan soal titel, tapi tentang tindakan yang merawat orang lain. Aku sering pakai contoh ini waktu ngobrol sama temen yang ngerasa kecil pengaruhnya—bahwa tindakan kecil yang dilakukan terus-menerus bisa berdampak besar.
Di akhir hari aku percaya yang penting adalah ketulusan: percaya pada misi, sabar jalani proses, dan nggak ragu bantu orang lain. Kurasa pelajaran itu universal, bisa diterapin dalam kerja komunitas, hubungan personal, atau waktu ngejar mimpi kreatif. Tetap sederhana, tapi kuat, dan itu yang bikin kisahnya tetap nempel di kepala aku sampai sekarang.