Lirik 'Hujan Kemarin' selalu bikin aku terhanyut ke kenangan yang gak jelas, kayak nonton cuplikan hidup sendiri dalam klip hitam-putih. Ada bagian-bagian yang samar, ada yang terlalu jelas — hujan dipakai sebagai simbol yang multifungsi: air yang membersihkan, air yang mengingatkan, dan air yang menumpahkan penyesalan. Kalau aku mendengarnya, yang muncul pertama adalah rasa kehilangan yang lembut, bukan teriakan putus asa. Itu membuat lagu ini terasa dekat untuk siapa saja yang pernah kehilangan sesuatu tanpa pamit.
Bagian vokal dan aransemen 'Taxi' menguatkan makna itu; nada-nada turun-naiknya seperti napas panjang yang sadar akan waktu yang sudah lewat. Liriknya nggak perlu banyak omong, justru kekuatan ada di celah-celah kata yang nggak terucap. Pendengar sering mengisi kekosongan itu dengan cerita sendiri—ada yang membayangkan cinta yang kandas, ada yang melihatnya sebagai penyesalan pada pilihan hidup. Buatku, lagu ini bekerja karena memberi ruang untuk interpretasi sekaligus menawarkan pelukan hangat di momen melankolis.
Di akhir, aku merasa lagu semacam ini jadi semacam cermin: bukan cuma memantulkan hujan di luar, tapi juga hujan di dalam diri. Selesai dengar, selalu ada rasa lega kecil, seolah menangis tapi nggak sendirian.