Dimanja Tiga Majikan Cantik
Begitu kakiku menginjak lantai semen teras rumah yang dingin, angin malam yang membawa sisa-sisa uap hujan langsung menerpa wajahku yang sembap dan lengket.
Di halaman depan yang becek, di bawah tenda terpal biru yang didirikan seadanya, bapak-bapak warga desa masih setia duduk berkumpul sambil menjaga jenazah. Mereka duduk melingkar di atas kursi plastik sewaan, ditemani gelas-gelas kopi hitam pekat yang asapnya masih mengepul dan piring-piring berisi gorengan dingin. Suara obrolan mereka terdengar pelan dan tenang, membahas hal-hal ringan untuk mengusir kantuk sambil sesekali menyeruput kopi panas.
"Eh, Rafli, sini duduk dulu sama bapak-bapak, cari angin ya di dalem sumpek banget pasti."