Rayuan Maut Para Tetanggaku
"Papa ada di pihakmu, selalu. Sekarang, jangan pikirkan Pak Kades itu dulu. Mari kita nikmati hari ini. Kita pesan makanan enak, dan kalau kamu mau, kita bisa main gitar di dalam. Kamu masih suka musik, kan?"
"Sudahlah, Bim. Jangan terlalu dipikirkan pria itu," ucap Om Adrian sambil menyandarkan punggungnya di kursi rotan villa miliknya di Lembang. Ia memetik senar gitarnya secara acak, mencoba memecah ketegangan setelah kami berbalik arah dan batal menemui Ibu di rumah Bandung tadi.
"Aku cuma nggak habis pikir, Pa. Dari sekian banyak orang, kenapa harus pria macam dia?" jawabku sambil menatap kabut yang mulai turun menyelimuti perbukitan di depan kami.