Di Ujung Senja
Yanven menepuk lembut pundak Redita, membuat senyum di wajah itu merekah.
Sebuah ironi sebenarnya jika kemudian Redita benar-benar memilih pergi, tapi ... ah! Yanven sendiri jadi pusing, kenapa harus serumit ini, sih? Kenapa dari dulu kisah cinta anak satu ini begitu pelik dan menguras air mata? Sungguh kasihan sekali.
"Eh ... by the way, gimana kelanjutan sama gebetan mu?" tanya Redita bosan, hanya kisah dia yang jadi bahan pembicaraan mereka sejak tadi, tidak ada salahnya kalau gantian, bukan?