Kita yang Terlambat Jatuh Cinta
"Jadi laki-laki harus tegas, Ezra. Jangan plintat-plintut!"
Ezra yang tengah memecah croissant menjadi potongan kecil tanpa memakannya, menghentikan tangannya. "You think I'd be happy marrying someone I don't love?" Ezra bangkit dari kursi, berjalan ke jendela besar yang menghadap taman depan rumah, menatap tanpa minat pada air mancur yang berkilau di bawah sinar matahari. Ia berbalik, wajahnya penuh frustrasi. "I want a wife I can be proud of, yang selevel denganku, yang ambisinya sejalan dengan mimpiku, yang cerdas dan... loving. Someone like Gisel."
Sikat na Kabanata