Ada satu kalimat di 'Langit Senja' yang selalu bikin merinding: 'Kita bukan pecahan langit yang jatuh, tapi bijih-bijih bintang yang belajar menyala dalam gelap.' Kutipan ini muncul di bab 12 ketika tokoh utama, Aruna, berdiri di tepi jurang setelah kehilangan segalanya. Metaforanya dalam dan puitis, tapi sekaligus memberi energi—seperti pelukan hangat di tengah badai.
Yang kusuka dari quote ini adalah cara ia mengubah narasi 'kejatuhan' menjadi 'proses'. Daripada melihat diri sebagai korban nasib, kita diajak melihat diri sebagai material kuat yang sedang berproses. Mirip dengan tema utama novel ini tentang resilience dan transformasi personal. Aku bahkan sempat menulisnya di sticky note di meja kerja sebagai pengingat hari-hari sulit!