Selir Yang Terlupakan
Ia bergerak di antara kedua kakiku, menindih tubuhku dengan kekuatan yang mantap namun tetap hati-hati, tangannya mencengkeram pinggangku dengan rasa memiliki yang mutlak tanpa menyisakan ruang untuk keraguan sedikit pun.
"Sebagaimana yang kau inginkan," bisiknya parau, suaranya hampir tak terdengar namun penuh kepastian tepat di bibirku.
Ia menciumku lagi, namun kali ini tak lagi lembut seperti sebelumnya. Ciuman itu dalam, menuntut, dan penuh rasa putus asa—sebuah pelepasan dari rindu yang terpendam empat tahun, serta kesepian yang dirasakan seorang penguasa yang tak pernah bisa menurunkan pertahanannya. Tubuhnya bergerak seirama di atas tubuhku dengan irama yang penuh kebutuhan mendesak,