Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus
Bukan hanya kepala Rayan saja yang tertoleh ke samping, pun tubuhnya tersungkur, menghantam kursi besi yang berdiam gagah di ruangan pengap itu.
“Kurang ajar kamu, Rayan!” bentak Danis. Napasnya memburu, wajahnya yang tadi berusaha setenang mungkin, kini merah padam karena ledakkan amarah. “Selama ini kurang apa keluargaku padamu? Kurang apa Diana padamu, Rayan?! Dia cucu perempuan satu-satunya, dia yang paling aku sayang di dunia ini!”
“Aaarrgghh,” Rayan mengerang, ia memegangi pipinya yang terasa panas dan berdenyut, tetapi mulutnya tak berani bersuara.