Biarlah Kau Jadi Kakak Ipar Selamanya
Namun anehnya, saat aku hendak buka mulut lagi, tiba-tiba putriku bersikeras ingin turun dari pelukanku.
Aku mengira dia merasa sakit di tubuhnya, jadi dengan cemas aku bertanya, “Yani, kenapa?”
“Mama…” Suara terdengar.
“Papa… sama Tante … surat nikah…” Perkataannya memang tidak begitu jelas, tetapi semua orang di tempat itu bukan bodoh. Semua orang langsung paham maksudnya.
Hatiku terkejut, tetapi dalam waktu yang sama aku merasa ini adalah kesempatan emas. Ini kesempatan yang diperjuangkan putriku dengan susah payah, mana mungkin kubiarkan sia-sia?