Melihat bagaimana lirik bisa berubah rasa cuma dengan satu pilihan kata selalu bikin aku bersemangat. Untuk menerjemahkan lagu seperti 'Never Goodbye' aku biasanya mulai dengan dua tujuan jelas: mempertahankan makna emosional dan membuatnya nyaman dibaca atau dinyanyikan dalam bahasa Indonesia.
Pertama, dengarkan lagu beberapa kali lalu catat lirik dalam Hangul dan romaji jika perlu. Terjemahkan baris demi baris secara literal dulu—ini kayak sketsa kasar yang menangkap makna dasar. Setelah itu, kerjakan adaptasi: ubah struktur kalimat supaya natural dalam bahasa Indonesia, perhatikan pilihan kata yang membawa nuansa sama (misalnya apakah pakai 'kau', 'kamu', atau 'dirimu'), dan pikirkan apakah frasa puitisnya butuh pembalikan urutan kata untuk tetap indah.
Langkah selanjutnya yang sering ku lakukan adalah coba nyanyikan versi terjemahan itu. Lagu punya ritme dan jumlah suku kata: sebuah terjemahan yang akurat tapi terlalu panjang bisa terdengar canggung saat dinyanyikan. Jadi aku kompromi—kadang pangkas kata yang berulang atau cari sinonim lebih singkat tanpa mengorbankan makna inti. Gunakan kamus online (Naver/KoreanDict), Papago/Google untuk ide awal, tapi selalu ratakan dengan indera bahasa sendiri. Kalau memungkinkan, lihat terjemahan resmi atau versi penggemar sebagai referensi, tapi tetap jaga suara terjemahanmu sendiri supaya alami.
Intinya, jangan takut mengulang berkali-kali sampai kamu dapat versi yang terasa benar secara emosional dan musikal. Kadang terjemahan terbaik bukan yang paling literal, melainkan yang membuat pendengar Indonesia merasakan apa yang penyanyi rasakan. Aku selalu senang saat sebuah frasa yang tadinya kaku jadi mengena saat dinyanyikan—itu momen favoritku.