Selir Yang Terlupakan
Mata gelapnya melintasi barisan depan, melewati selir-selir kesayangan, melewati kelompok yang berbisik-bisik, hingga akhirnya berhenti tepat menatapku.
Ekspresinya tak berubah. Namun matanya sedikit menyipit—hanya sekejap, ada kilatan sesuatu yang samar seperti nyala lilin tertiup angin, sebelum kembali tertutup oleh kebekuan yang tak tertembus.
"Yang Mulia..." ucapku pelan dan lembut, kepalaku tetap menunduk sopan.
Tatapannya tak beralih sedikit pun. Ia tak segera menjawab, dan keheningan itu membentang makin panjang, terasa berat menekan setiap sudut ruangan.