Malam yang panas
Tangannya menggenggam surat yang semalam ia tulis untuk dirinya sendiri: pesan pengingat tentang keberanian, tentang cinta, dan tentang bagaimana semua luka bisa membawa seseorang menuju tempat yang benar.
Di sisi lain, Reza mengenakan batik putih bersulam emas yang disiapkan khusus oleh ibunya. Ia berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya dengan campuran perasaan gugup dan haru. Tak ada keraguan, tak ada ketakutan. Hanya keteguhan hati.
"Pak, ini dasinya," ujar Ardi, adik Reza, sambil masuk ke kamar dengan tersenyum lebar. "Tapi kayaknya lo udah siap lahir batin ya."
Hot Chapters