Aku selalu terpukau oleh bagaimana satu frasa kecil bisa membuka pintu suasana—'waqtu sahar' itu contoh yang pas. Secara harfiah, jika dibongkar dari bahasa Arab, 'waqtu' berarti waktu dan 'sahar' merujuk pada sahar atau saat menjelang fajar, yaitu waktu ketika malam mulai memudar dan cahaya pertama muncul. Di Indonesia kata ini sering dipahami seperti waktu sahur: sunyi, dingin, dan penuh antisipasi sebelum hari dimulai.
Dalam lirik, arti literal itu sering dikembangkan jadi metafora. Banyak penulis lagu dan penyair menggunakan 'waqtu sahar' untuk menggambarkan momen pencerahan, penyesalan yang masih hangat, atau doa-doa yang terasa lebih dekat karena heningnya malam. Saya suka bayangkan adegan: seseorang duduk di jendela, lampu kota redup, menunggu fajar sambil mengenang atau memohon—itu kekuatan frasa ini, membuat pendengar ikut merasakan ketegangan antara gelap dan terangnya.
Secara personal, setiap kali mendengar frasa itu di lagu, saya langsung teringat suasana Ramadan dan beberapa malam sunyi yang penuh refleksi. Jadi terjemahan singkatnya: 'waktu menjelang fajar' atau 'saat sahur', tetapi nilai emosionalnya sering jauh lebih dalam daripada kata-kata itu sendiri.