Suasana malam sering bikin aku melamun, dan ketika mendengar kata 'waqtu sahar' dalam lirik, langsung kebayang suasana hening sebelum fajar. Dalam tradisi Islam, waktu sahar (atau sahur) memang punya bobot religius: saat itu banyak dianjurkan berdoa, bangun untuk shalat tahajjud, dan dipercaya waktu mustajab untuk permohonan. Kalau lirik lagu merujuk pada momen-momen ini, ada level makna yang bisa dipahami lewat sudut teks agama—misalnya kalau ia menyitir ayat atau hadits, tafsir klasik tentang ayat atau konteks hadits itu tentu relevan.
Tapi harus tegas aku bilang, tidak ada satu otoritas tunggal yang mengeluarkan 'tafsir resmi' untuk sebuah lagu. Dalam Islam, tafsir yang resmi biasanya terkait dengan ayat Al-Qur'an dan dilakukan oleh mufassir; kalau lirik cuma bernuansa spiritual atau puitik, ulama berbeda bisa memberi penjelasan yang bervariasi. Beberapa kalangan sufi misalnya suka membaca 'waqtu sahar' sebagai metafora kebangkitan batin, bukan sekadar waktu fisik. Di sisi lain, dewan agama atau otoritas lokal kadang memberi pandangan praktis soal apakah lirik itu sesuai syariah atau mengandung unsur yang bermasalah.
Kalau kamu mau memahami lirik secara lebih 'religius', cara yang paling masuk akal buatku: cek apakah ada kutipan Quran/hadits dalam lirik, lalu pelajari tafsirnya (misalnya tafsir klasik atau penjelasan ulama terkemuka). Selain itu, pahami konteks pencipta lagunya—apakah berniat spiritual, artistik, atau sekadar puitis. Aku sendiri suka memadukan pembacaan tekstual dan pengalaman personal saat mendengarkan lagu semacam itu; seringkali makna terdalam muncul dari resonansi antara teks dan pengalaman malam pribadi.