Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku
Aku hanya membuka sedikit celah, membiarkan rantai pengaman tetap terpasang.
"Mau apa?" tanyaku lewat celah sempit itu.
Luna berdiri di lorong. Dia mengenakan piyama sutra ungu tua, rambutnya digerai rapi. Dia terlihat segar, cantik, dan... berbahaya.
Di tangannya, dia memegang segelas susu hangat. Uap putih mengepul dari gelas kaca itu.
"Nih," Luna menyodorkan gelas itu ke arah celah pintu. "Minum."