Lusia
“Hentikan, kamu tidak perlu bertanggung jawab. Biar aku ulangi memetik bunga – bunga itu, jadi segeralah bangk—“
Bibir Lusia di bungkam dengan bibir Aaron, sejujurnya semenjak berada di posisi tidak sopan barusan, Aaron sudah terdistraksi dengan wajah Lusia. Memang Aaron tak pernah punya waktu untuk mengamati wajah Lusia. Tapi kali ini, Aaron benar – benar menyadarinya. Betapa cantiknya Lusia dengan mata cokelatnya. Dan bersyukurlah Tuhan memberikan sifat licik sebagai salah satu sifat unggulan Aaron. Karena laki – laki itu memanfaatkan situasi ini, untuk sekarang ini. Mencium Lusia dengan cara yang sangat buas.
Aaron menarik tanganya, tak lagi menjadi sandaran tubuhnya, melainkan untuk mera
Hot Chapters