Menikahi Ayah Temanku
“Maklumlah, sepeda tua. Tadi rantainya copot lagi dalam perjalanan ke sini. Nah, saya tidak terlambat, kan?”
Wira membalas senyuman itu dengan sebuah cengiran picik. “Tidak, tidak. Kamu tidak terlambat dan saya senang kamu datang. Setidaknya kepergianmu akan jadi lebih seru kalau kita semua menyaksikanmu turun bukit dengan sepeda kumbang kerenmu itu lebih dulu.”
Rean melirik pada sepeda kumbangnya lalu tertawa kecil sambil menepuk-nepuk sadel sepeda bangga. “Ya, saya rasa juga perlombaan ini akan jadi pertunjukkan seru.”