ISTRIKU SERING MENANGIS
"Lain karakter, Pah. Mungkin karena ekonomi juga, dan Bu Diah tidak pernah bersyukur atas apa yang ia dapatkan.
"Ya sudah, kita bertemu bukan untuk bicarakan perihal Mayang, tapi soal kamu, Rindu," ucap mama. Sepertinya ia serius dengan ucapannya. Reina yang ikut denganku pun mulai meletakkan ponselnya yang sedari tadi ia pegang. Ia turut mendengarkan apa yang akan kami bicarakan.
"Ada apa sih? Aku jadi deg-degan," ungkapku sembari memegang dada ini. Kemudian, posisi dudukku berubah agak ke depan.