The CEO's First Class Destiny
Aiden menatap Elena dari ujung rambut hingga ujung kakinya, seolah-olah ia sedang menilai sebuah karya seni yang baru saja ia akuisisi.
"Keindahan tanpa fondasi finansial hanyalah delusi, Elena," suara Aiden berat dan bariton, setiap kata yang diucapkannya terasa seperti ketukan palu hakim. "Ayahmu terlalu sibuk dengan estetika hingga ia lupa bahwa dunia ini digerakkan oleh logika kekuasaan. Sekarang, estetika itu menjadi milik saya."
Aiden melangkah satu tahap lebih dekat, merambah ruang pribadi Elena. Aroma parfumnya—campuran kayu cendana dan oud yang mahal—memenuhi indra penciuman Elena.
인기 회차