Tukar Ranjang
Nadira memesan menu yang sama persis seperti kebiasaan mendiang istrinya—detail yang terlalu spesifik untuk disebut kebetulan.
Suara pelayan menjauh, tapi tidak ada yang terdengar lebih nyaring daripada detak jantung Nirwan. Ia memandang Nadira, bukan lagi sebagai wanita asing, melainkan teka-teki hidup yang tiba-tiba muncul membawa bayangan masa lalu.
“Apa kamu. Maksud saya, apa Nona Nawles.” Nirwan mencoba bicara lagi, suaranya mengambang di antara ragu dan harap, “Apakah Anda pernah tinggal di Bandung?"